Jumat, 23 September 2016

Konsep Pemberdayaan

Pengertian/Konsep Pemberdayaan:
1.       Pemberdayaan masyarakat merupakan strategi pembangunan. dalam perspektif pembangunan ini, disadari betapa penting kapasitas manusia dalam upaya meningkatkan kemandirian dan kekuatan internal atas sumber daya materi dan nonmaterial. sebagai suatu strategi pembangunan, pemberdayaan dapat diartikan sebagai:

 kegiatan membantu klien untuk memperoleh daya guna mengambil keputusan dan menentukan tindakan yang akan dilakukan, terkait dengan diri mereka termasuk mengurangi hambatan pribadi dan sosial dalam melakukan tindakan melalui peningkatan kemampuan dan rasa percaya diri untuk menggunakan daya yang dimiliki dengan mentransfer daya dari lingkungannya (payne, 1997: 266 dalam buku “modern social work theory”).

2.       Sementara itu ife (1995: 182 dalam buku “community development: creating community alternatives-vision, analysis and practice”) memberikan batasan pemberdayaan sebagai upaya penyediaan kepada orang-orang atas sumber, kesempatan, pengetahuan, dan keterampilan untuk meningkatkan kemampuan mereka menentukan masa depannya dan untuk berpartisipasi di dalam dan mempengaruhi kehidupan komunitas mereka.

3.       sementara itu, sutrisno (2000:185) menjelaskan, dalam perspektif pemberdayaan, masyarakat diberi wewenang untuk mengelola sendiri dana pembangunan baik yang berasal dari pemerintah maupun dari pihak lain, disamping mereka harus aktif berpartisipasi dalam proses pemilihan, perencanaan, dan pelaksanaan pembangunan.
Pperbedaannya dengan pembangunan partisipatif adalah keterlibatan kelompok masyarakat sebatas pada pemilihan, perencanaan, dan pelaksanaan program, sedangkan dana tetap dikuasai oleh pemerintah.

Kesimpulan:
meskipun rumusan konsep pemberdayaan berbeda-beda antara ahli yang satu dengan yang lainnya, tetapi pada intinya dapat dinyatakan bahwa pemberdayaan adalah sebagai:
 upaya berencana yang dirancang untuk merubah atau melakukan pembaruan pada suatu komunitas atau masyarakat dari kondisi ketidakberdayaan menjadi berdaya dengan menitikberatkan pada pembinaan potensi dan kemandirian masyarakat. dengan demikian mereka diharapkan mempunyai kesadaran dan kekuasaan penuh dalam menentukan masa depan mereka, dimana provider dari pemerintah dan lembaga non government organization/ngo hanya mengambil posisi partisipan, stimulan, dan motivator.



2. Buku Manajemen Pemberdayaan, oleh Randy R. W. & Riant Nugroho D, penerbit Elex Media Komputindo, Jakarta 2007.
Pemberdayaan berasal dari penerjemahan bahasa Inggris “empowerment” yang juga dapat bermakna: “pemberian kekuasaan” karena power bukan sekadar “daya”, tetapi juga “kekuasaan”, sehingga kata “daya” tidak saja bermakna “mampu”, tetapi juga mempunyai kuasa”.
Kita memerlukan pemberdayaan, khususnya kepada mereka yang “lemah” dan “tidak berdaya”.
Pemberdayaan adalah sebuah “proses menjadi”, bukan sebuah “proses instan”.  Sebagai proses, pemberdayaan mempunyai tiga tahapan: penyadaran, pengkapasitasan, dan pendayaan.

Pemberdayaan sebagai proses memberikan atau mengalihkan sebagian kekuasaan, kekuatan, atau kemampuan kepada masyarakat agar setiap individu menjadi lebih berdaya.
Pendekatan pemberdayaan harus dipahami sebagai strategi, bukan tujuan. Sementara tujuan pendekatan pemberdayaan yang harus dipahami adalah meningkatkan kesejahteraan keluarga miskin.
Contoh:
Negara dengan rakyat yang “tidak berdaya” akan berisi pemerintahan  yang berhadapan dengan rakyat yang manja, menang sendiri, dan tidak mau bertanggung jawab. Hari ini pun kita sudah melihatnya. Desakan untuk mempunyai the strong leader, atau konsep “Ratu Adil” adalah konsep rakyat yang “tidak berdaya”, sekaligus memberi tahu kita sebuah fenomena “rakyat yang tidak dewasa”.
Pembangunan perlu menjadikan pemberdayaan sebagai nilai dan pilihan kebijakan, sekaligus sebagai pembelajaran sosial, dalam arti kita selalu belajar bagaimana melakukan pemberdayaan yang semakin hari semakin baik. Karena, seperti kata cendekiawan Soedjatmoko, pembangunan tidak lain adalah belajar untuk hidup lebih baik daripada hari kemarin.  Dan, pembelajaran adalah bagian inti dari pembangunan pada zaman kini dan mungkin, sampai kurun waktu yang panjang di masa depan.
Buku ini berbincang tentang Pemberdayaan dalam Praktik, atau Empowerment In Action. Agar, pemberdayaan tidak tinggal sebagai wacana, politik, atau debat publik. Masyarakat Indonesia perlu diberdayakan. Kita memerlukan how to dari pemikiran pembangunan yang memberdayakan.

Disadur dari : http://teoripemberdayaan.blogspot.com/2012/04/konsep-pemberdayaan-2.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar